Timenusantara.top.Pontianak,KalimantanBarat* — Panitia Naik Dango ke-3 Kota Pontianak menegaskan komitmen spiritual dan kultural dalam menyambut rangkaian acara tahun ini. Ketua Umum Panitia, Vendrekus Derek,M.Pd.menyatakan bahwa seluruh persiapan telah diawali dengan ritual adat pada 17 April 2026.
Ritual tersebut bukan sekadar seremonial. Dalam kerangka kosmologi Dayak Kanayatn, prosesi ini dimaknai sebagai bentuk permohonan perlindungan, keberkahan, dan keselamatan kepada _Ka Jubata_, Tuhan Yang Maha Esa. “Kami memohon agar seluruh rangkaian acara berjalan aman, nyaman, kondusif, dan lancar,” ujar Vendrekus Derek.
*Dari Sakral ke Kultural: Ragam Penampilan Adat*
Naik Dango, yang secara harfiah berarti “memanjatkan hasil panen ke lumbung”, merupakan ritus syukur atas panen padi yang melimpah. Pada edisi ketiga di Kota Pontianak ini, nilai sakral tersebut dijembatani dengan ekspresi kultural yang dapat diakses publik luas.
Panitia menjadwalkan sejumlah pertunjukan budaya yang merepresentasikan kekayaan tradisi Dayak, di antaranya Tari Penompo, Nutuk Pagi, dan Oangka Gasing. Ketiga elemen ini tidak hanya hiburan, melainkan narasi visual tentang siklus agraris, solidaritas komunal, dan kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.
*Puncak Acara: Diplomasi Budaya Lewat Panggung Hiburan*
Sebagai strategi memperluas jangkauan audiens, panitia akan menghadirkan sejumlah artis nasional pada malam penutupan yang digelar 24 hingga 25 April 2026. Kehadiran figur publik ini diposisikan sebagai titik temu antara pelestarian tradisi dan dinamika budaya populer.
Dengan demikian, Naik Dango ke-3 tidak hanya menjadi ruang kontemplasi spiritual, tetapi juga medium diplomasi budaya. Ia mempertemukan yang sakral dan sekuler, yang lokal dan nasional, dalam satu tarikan napas perayaan identitas.
Panitia mengimbau masyarakat untuk hadir dengan semangat kekeluargaan, menjaga ketertiban, dan memaknai acara ini sebagai refleksi atas relasi manusia dengan alam serta Sang Pencipta.